KARAWANG | BEKASIEXPOSE |
โSejak Jumat, 20 Februari 2026, perjalanan saya dari Klari menuju Jatisari melalui ruas Jalan Pantura bukan lagi sekadar rutinitas harian.
โIa berubah menjadi perjalanan penuh kecemasanโantara harapan sampai tepat waktu dan rasa waswas apakah saya bisa pulang dengan selamat.
โArus lalu lintas di jalur vital ini nyaris tak pernah lengang. Kepadatan sudah terasa sejak Terminal Klari, berlanjut di lampu merah Klari, merayap di depan Desa Duren, hingga kembali tersendat saat melintasi Pasar Kosambi.
โKemacetan seolah menjadi menu wajib di pertigaan arah Cengkong, berlanjut di Dawuan, dan mencapai titik paling mengkhawatirkan di Simpang Jomin.
โNamun ironisnya, kemacetan bukan semata karena volume kendaraan yang tinggi.
โDi banyak titik menuju Jatisari, laju kendaraan justru melambat akibat jalan yang berlubang. Lubang-lubang menganga di badan jalan memaksa pengendara roda dua maupun roda empat bermanuver mendadak, menghindar di tengah padatnya arus kendaraan.
โTak jarang, kendaraan besar saling serobot di Simpang Jomin, terlebih saat dua lajur menyempit menjadi satu jalur akibat kerusakan jalan.
โSituasi ini bukan hanya merusak kendaraan, tetapi juga membuka peluang kecelakaan yang bisa merenggut nyawa.
โBeberapa waktu lalu memang sempat ada perbaikan.
โTambal sulam dilakukan di sejumlah titik. Namun pertanyaan besarnya: mengapa tidak dituntaskan?
โMengapa perbaikan terkesan setengah hati, cukup untuk meredam keluhan sesaat, tetapi belum mampu menghadirkan rasa aman secara menyeluruh?
โBagi saya, jalan ini bukan sekadar jalur lintasan ekonomi. Ini adalah rute harapan.
โSetiap pagi dan malam, saya harus bolak-balik menuju RSUD Jatisari untuk menjenguk anak yang sedang dirawat.
โDalam gelapnya malam, lubang-lubang di jalan kerap tak terlihat. Ban kendaraan menghantam aspal rusak tanpa peringatan.
โBeberapa kali saya hampir terjatuh. Beberapa detik saja bisa menjadi pembeda antara sampai di rumah atau justru menjadi korban berikutnya.
โTulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Namun sudah saatnya para pemangku kebijakanโdari level kabupaten, provinsi, hingga pusatโmembuka mata lebih lebar.
โJalan rusak di jalur Pantura KlariโJatisari bukan lagi persoalan estetika infrastruktur, tetapi soal keselamatan publik.
โJangan sampai respons hanya berhenti pada kalimat, โiya, akan segera diperbaiki.โ
โSebab di balik setiap lubang jalan, ada potensi kecelakaan. Dan di balik setiap kecelakaan, ada keluarga yang menunggu di rumahโberharap orang yang mereka cintai pulang dengan selamat.
โKerja nyata bukan lagi pilihan. Ia adalah keharusan. Sebelum lubang-lubang itu kembali memakan korban berikutnya.
โ๐ด.๐บ๐ถ๐ณ๐ฌ๐ฏ
(Penulis Feature : Ketua IWO Indonesia DPD Karawang)









