Selasa, Maret 3, 2026
spot_img
spot_imgspot_img

TOP NEWS

spot_img

BEKASI 24 JAM

spot_img

โ€Žโ€œ๐Š๐จ๐ง๐  ๐€๐›๐ซ๐š๐ฒ: ๐“๐ž๐ค๐š๐ง๐š๐ง ๐†๐š๐ฒ๐š ๐‡๐ข๐๐ฎ๐ฉ ๐๐š๐ง ๐๐ข๐š๐ฒ๐š ๐๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ค ๐ƒ๐จ๐ซ๐จ๐ง๐  ๐๐ž๐ฃ๐š๐›๐š๐ญ ๐Œ๐š๐ฌ๐ฎ๐ค ๐‰๐ฎ๐ซ๐š๐ง๐  ๐Š๐จ๐ซ๐ฎ๐ฉ๐ฌ๐ขโ€

Kabupaten Bekasi | BEKASIEXPOSE.COM |

โ€Žโ€Ž Praktik korupsi dinilai muncul akibat perpaduan faktor sistemik dan faktor individu, sehingga menjadi masalah yang sulit diberantas secara tuntas. Pandangan tersebut disampaikan pengamat kebijakan publik, Kong Abray, dalam keterangannya kepada Redaksi Bekasiexpose.com.

โ€Žโ€ŽKong Abray menjelaskan bahwa perilaku koruptif tidak muncul begitu saja, tetapi lahir dari kombinasi antara peluang, tekanan, dan pembenaran diri. Menurutnya, kondisi ini diperburuk oleh lemahnya sistem pengawasan serta inkonsistensi penegakan hukum.

โ€ŽPernyataan ini disampaikan oleh Kong Abray, seorang pengamat yang kerap menyoroti isu tata kelola pemerintahan dan integritas pejabat publik.

Baca Juga  ๐“๐š๐ง๐ ๐ข๐ฌ ๐–๐š๐ง๐ข๐ญ๐š ๐‡๐š๐๐š๐ง๐  ๐Œ๐จ๐›๐ข๐ฅ ๐†๐ฎ๐›๐ž๐ซ๐ง๐ฎ๐ซ ๐ƒ๐ž๐๐ข ๐Œ๐ฎ๐ฅ๐ฒ๐š๐๐ข, ๐ƒ๐ฎ๐ ๐š๐š๐ง ๐ƒ๐š๐ง๐š ๐Œ๐š๐ง๐๐ž๐ค ๐๐ข ๐‚๐ข๐ค๐š๐ซ๐š๐ง๐  ๐๐š๐ซ๐š๐ญ ๐‡๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐’๐ž๐ ๐ž๐ซ๐š ๐ƒ๐ข๐ญ๐ข๐ง๐๐š๐ค๐ฅ๐š๐ง๐ฃ๐ฎ๐ญ๐ข

โ€ŽPandangan tersebut ia sampaikan dalam keterangannya pada Rabu ( 10, Desember 2025 ) kepada redaksi Bekasiexpose.com.

โ€ŽKeterangan itu disampaikan melalui komunikasi resmi kepada Redaksi Bekasiexpose.com di Kabupaten Bekasi.

โ€Žโ€ŽMenurut Abray, pejabat terjerumus dalam korupsi karena tiga dorongan utama:

โ€Žโ€Ž1. Kesempatan โ€” kekuasaan dan posisi yang memberi akses terhadap sumber daya publik.

โ€Žโ€Ž2. Tekanan โ€” gaya hidup mewah, kebutuhan finansial, serta biaya politik yang tinggi.

โ€Ž3. Rasionalisasi โ€” adanya pembenaran diri bahwa korupsi dianggap lumrah atau โ€œbiasaโ€ dalam birokrasi.

โ€Žโ€ŽIa menambahkan, faktor-faktor tersebut semakin parah karena pengawasan internal lemah, penegakan hukum tidak konsisten, serta integritas dan moralitas pribadi pejabat yang rendah.

Baca Juga  ๐Š๐ฅ๐š๐ซ๐ข๐Ÿ๐ข๐ค๐š๐ฌ๐ข ๐•๐ข๐๐ž๐จ ๐ƒ๐ฎ๐ ๐š๐š๐ง ๐๐ฎ๐ง๐ ๐ฅ๐ข ๐๐š๐ฌ๐š๐ซ ๐“๐ฎ๐ฆ๐ฉ๐š๐ก, ๐๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฅ๐จ๐ฅ๐š ๐๐š๐ง๐ญ๐š๐ก ๐“๐ฎ๐๐ฎ๐ก๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐“๐ž๐ ๐š๐ฌ๐ค๐š๐ง ๐“๐š๐ค ๐€๐๐š ๐๐ž๐ซ๐ฆ๐ข๐ง๐ญ๐š๐š๐ง ๐”๐š๐ง๐ 

โ€Žโ€ŽKong Abray menegaskan bahwa kombinasi antara tekanan pribadi dan kerentanan sistem membuat praktik korupsi terus berulang. Tanpa pembenahan sistem pengawasan dan perbaikan integritas aparatur, kata dia, korupsi akan terus menjadi siklus yang sulit diputus.

โ€Žโ€Ž๐‘ท๐’†๐’๐’–๐’๐’Š๐’” : ๐‘ด.๐‘บ๐’๐’๐’†๐’‰

โ€Ž

Catatan Redaksi: Artikel ini dipublikasikan secara otomatis dan dapat mengalami pembaruan sesuai perkembangan informasi terbaru maupun klarifikasi dari pihak terkait.
spot_img

PERISTIWA

โ€Ž๐ƒ๐ข ๐‡๐š๐๐š๐ฉ๐š๐ง ๐€๐ฉ๐š๐ซ๐š๐ญ ๐๐š๐ง ๐ˆ๐–๐Ž๐ˆ, ๐‘๐ž๐ค๐ญ๐จ๐ซ๐š๐ญ ๐”๐ง๐ฌ๐ข๐ค๐š ๐’๐š๐ฆ๐ฉ๐š๐ข๐ค๐š๐ง ๐๐ž๐ซ๐ฆ๐ข๐ง๐ญ๐š๐š๐ง ๐Œ๐š๐š๐Ÿ ๐ค๐ž ๐–๐š๐ซ๐ญ๐š๐ฐ๐š๐ง

KARAWANG | BEKASIEXPOSE | โ€ŽPihak Rektorat Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan salah satu stafnya yang sempat menimbulkan polemik dengan insan pers. โ€ŽPermintaan maaf itu disampaikan langsung oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Unsika, Dr. H. Amirudin, Drs., M.Pd.I, bersama staf Humas Unsika, Nurhali. โ€ŽPernyataan tersebut disampaikan di hadapan jajaran Unsika, aparat dari Polsek Telukjambe...

BEKASI 24 JAM

spot_img
spot_img

POS POPULER

INVESTIGASI

INDEKS