Cikarang Pusat | BEKASIEXPOSE.COM |
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi hingga memasuki pekan kedua mendapat perhatian serius dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi. Untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan, Dinkes menurunkan tim medis dan menyiagakan pelayanan bagi warga terdampak.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Supriadinata, mengatakan banjir kali ini tergolong luar biasa, khususnya di wilayah utara Kabupaten Bekasi. Pihaknya fokus menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan dengan mendirikan pos-pos kesehatan di lokasi terdampak.
“Banjir tahun ini cukup luar biasa. Kami memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan membentuk pos kesehatan, terutama di wilayah utara Kabupaten Bekasi,” ujar Supriadinata.
Wilayah prioritas penanganan meliputi Kecamatan Babelan, Tarumajaya, dan Muaragembong. Selain mendirikan posko kesehatan, Dinkes juga menerbitkan Surat Keputusan pembentukan Tim Monitoring untuk melakukan pemantauan langsung ke lokasi banjir.
Supriadinata menegaskan, seluruh Puskesmas di Kabupaten Bekasi tetap beroperasi dan memberikan pelayanan kesehatan 24 jam. Tim medis juga menerapkan sistem jemput bola dengan mendatangi langsung titik-titik banjir dan lokasi pengungsian.
“Petugas melakukan monitoring ke lapangan secara bergantian. Kami membagi tim menjadi lima kelompok, masing-masing terdiri dari tenaga medis dari empat hingga lima Puskesmas,” jelasnya.
Untuk memperkuat layanan, Dinkes Kabupaten Bekasi juga menggelar bakti sosial kesehatan yang melibatkan sekitar 33 organisasi profesi kesehatan, termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan organisasi profesi lainnya.
Terkait kondisi kesehatan warga terdampak, penyakit yang paling banyak ditemukan saat ini adalah penyakit kulit dan gangguan saluran pernapasan. Dinkes mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit pascabanjir.
“Kami mengingatkan warga agar memastikan air minum benar-benar bersih dan mewaspadai penyakit yang bersumber dari air terPPcemar, seperti leptospirosis dan penyakit kulit,” ujarnya.
Selain pelayanan pengobatan, Dinkes juga mengintensifkan promosi dan penyuluhan kesehatan melalui Puskesmas, baik di lokasi pengungsian maupun di lingkungan permukiman warga terdampak.
Supriadinata juga mengingatkan tenaga kesehatan yang bertugas di lapangan untuk menjaga kondisi fisik. “Petugas harus tetap menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, dan membersihkan diri setelah bertugas di lokasi banjir,” pungkasnya.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, tercatat sebanyak 210 kejadian bencana hidrometeorologi yang tersebar di 48 desa pada 15 kecamatan, berdasarkan pembaruan data per 31 Januari 2026 pukul 13.00 WIB.
Bencana tersebut didominasi oleh banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor akibat intensitas curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir.
BPBD mencatat jumlah warga terdampak mencapai 48.449 jiwa, dengan 1.270 jiwa di antaranya terpaksa mengungsi. Untuk penanganan darurat, disiapkan 16 titik pengungsian di 7 kecamatan, dengan jumlah pengungsi terbanyak berada di Kecamatan Babelan, Sukawangi, dan Pebayuran.
Selain permukiman, bencana hidrometeorologi juga berdampak pada sektor pertanian. Tercatat sekitar 6.487 hektare lahan pertanian terdampak, yang berpotensi menurunkan produktivitas masyarakat.
BPBD Kabupaten Bekasi bersama unsur terkait telah melakukan sejumlah langkah penanganan, di antaranya pengerahan personel untuk asesmen dan evakuasi, penyaluran bantuan logistik, pendirian serta pengelolaan pengungsian, koordinasi lintas sektor dengan TNI, Polri, perangkat daerah, relawan, dan aparat desa, serta pemantauan berkelanjutan di wilayah rawan bencana.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, khususnya di wilayah rawan banjir dan longsor, serta segera melaporkan kondisi darurat melalui kanal resmi BPBD Kabupaten Bekasi,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi.
𝑹𝒆𝒅.








